BIDADARI TAK BERSAYAP (bridge 2-3)

Rabu, Desember 29, 2010

Hari berganti. Sedang airmata Nisaaa tak mau berhenti. Habibah perlahan mendekati anaknya, menata bahasa sehalus-halusnya, dan berbicara sesantun-santunnya.
“Nisaa, anakku. Umi tahu ini adalah pilhan yang sangat sulit bagi kita. Maafkan Umi.”
Nisaa tak bergeming. Duduk dipinggir membelakangi Habibah.
“Nisaa....” tangan Habibah hendak menyentuh pundak anaknya ketika Nisaa segera mengelak.
“Pilihan? Pilihan apa maksud Umi? Apakah Umi memberi pilihan ketika aku dulu hendak mengaji? Apakah Umi memberikan pilihan ketika dulu aku harus mengenakan jilbab ini? Apa Umi memberi pilihan?” baru sekali ini, kata-kata bernada keras keluar dari mulut gadis jelita ini.
“Ingatkah umi sering memukuli kakiku menggunakan rotan dan mengancam akan membakar rambutku ketika aku keluar rumah tanpa menutupi aurat? Ingatkah? Bukankah Umi yang mengajarkan ini semua? Bukankah Umi yang mengajarkan adalah kewajiban bagi setiap muslimah untuk memakai jilbabnya? Lantas kenapa sekarang justru umi yang mengingkarinya?”
Habibah sudah tak bisa mengelak lagi,”Maafkan aku....Maafkan aku Nisaa...”
“MINTA MAAFLAH KEPADA ALLAH...”

0 komentar:

TemanSaya

Share it

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Comments