Minggu, Juli 05, 2009

DERU SANG PILU

Lagi dan lagi aku menjadi saksi malam yang larut ini, sepertiga malam dimana seharusnya aku mengering dalam mata yang terpejam. Dingin dalam hembusan angin malam, seperti selayaknya air yang membasahi mata mereka yang melewatkan waktu berharga untuk bermunajat, waktu dimana sinaran Tuhan turun menerawang dan menyinari setiap insan di bumi tidak berlaku padaku. Senantiasa ku menahan riak gelombang yang senantiasa mendorong butiran dariku untuk mengalir dan menetes. Hampir setiap malam aku harus menemaninya dan kehilangan beberapa bagian dariku. Namun aku tak mengeluh ataupun menyayangkan, justru aku sangat bahagia setiap malam dapat menjadi pengantar doanya, ditemani dengan suara isakan yang menyayat.

Andai aku diciptakan dengan anugerah perasaan maka mungkin aku sudah lebih sedih dari perempuan ini. Aku tahu secara detil semua kisah yang memilukan tersebut. Kisah yang akan merebut perhatian khalayak apabila ada seorang pujangga berkenan membukukannya. Aku adalah salah satu saksi yang pasti akan memberatkan lelaki itu, lelaki yang telah dengan tega menyakitinya lahir maupun bathin. Namun sakit hatinya yang pasti lebih mendalam daripada sakit di badannya yang pasti akan mengering dalam satu-dua hari.

Aku menyaksikan hari itu. Hujan yang turun tanpa henti dari pagi. Burung-burung yang biasa berceloteh riang seakan terbungkam. Langit mendung seakan akan runtuh dan menyatu dengan bumi. Udara dingin menusuk tulang apalagi untuk tulang renta seperti perempuan satu ini. Perempuan yang matanya selalu terbasahi olehku, yang senantiasa pipinya teraliri olehku.
Malam begitu pekat hingga acara yang seharusnya khidmat menjadi sangat sepi pengunjung. Doa yang seharusnya menjadi dengungan upacara 100 hari wafatnya sang suami ternyata terganti dengan gemericik butiran hujan di pelataran rumah indah itu. Rumah yang tamannya banyak berdiri palem botol dan beberapa tumbuhan buah. Kolam ikan yang terhias lampu mulai dipenuhi air hujan kiriman langit.

Acara tetap berlangsung hingga beberapa jam lamanya. Suasana kembali lengang dan beberapa tamu dan handai taulan sudah berpamitan untuk undur diri kembali ke kediaman masing-masing. Perempuan renta itu membersihkan beberapa pirirng kotor yang masih berserakan di atas meja di ruang tengah, tapi apa yang dikerjakan perempuan cantik itu disana? Hanya duduk memainkan remote untuk mengganti tayangan televisi besar yang tegak berdiri diatas meja tepat di depannya. Bahkan tak segan dia menyuruh sang perempuan paruh baya ini untuk mengangkat beberapa gelas yang terlihat berat untuknya.

Sang lelaki itu mulai mendekat pada perempuan cantik yang duduk di depan televise, membelainya dan mencium keningnya. Ternyata sang wanita cantik berkulit putih tersebut adalah istri sang laki-laki yang memiliki janggut tipis. Aku juga tahu bahwa sang laki-laki itu adalah anak dari perempuan tua yang sedang membersihkan perabot kotor, anak itu memanggilnya ibu.

Dari tampangnya laki-laki itu berusia sekitar 30-an tahun, sedang dang ibu aku perkirakan selisih 25 tahun di atasnya dan wanita yang duduk si sofa merah itu tidak lebih dari 23 tahun. Sejauh ini keluarga ini hidup dengan bahagia, sangat mencintai satu sama lain, hingga kepergian pak Dharmo, suami sang perempuan tua beberapa bulan yang lalu karena kecelakaan pesawat yang sangat tragis, hingga jasadnya ditemukan tidak utuh lagi. Kemudian masuknya salah seorang anggota keluarga baru yang menjadi belahan nyawa sang anak yang dapat dikatakan telat menikah. Perempuan yang dinikahi sang anak begitu cantiknya, namun dialah yang menjadi salah seorang yang membuat anak menjadi durhaka kepada orang tua.

Gelagat jeleknya mulai terlihat setelah dua minggu pernikahannya. Suara yang lemah lembut dan sopan serta bahasa halus yang di tunjukkannya pada saat pertama kali di perkenalkan oleh sang anak berangsur menghilang menjadi nada bicara yang kasar dan beberapa kali umpatan yang tak elak hanya di simpannya dalam batin, sang ibu tak pernah mengadukan kejadian ini pada anaknya karena pernah suatu hari beliau mengadu akan kata-kata sang menantu yang dianggapnya terlalu kasar dengan menghina mendiang suaminya. Namun apa yang beliau dapat, justru marah besar dari anaknya. Beliau dimaki dengan sebutan perempuan tua tak tahu diri dan tidak tah mengerti anak muda. Entah apa yang terjadi pada anaknya, adakah hasuta yang telah merubahnya atau apakah sang ibu yang memang salah. Itu yang selalu menjadi pertanyaaan yang menggelayut di benak sang bunda. Namun seperti kebanyakan perempuan dengan hakikatnya sebagai peremuan tak urung aku yang harus berkorban membasahi sebagian pipinya, mengalir dan menetes dari dagunya, meliuk-liuk melewati garis keriput yang sudah memenuhi seluruh wajahnya.

Hari ini tak pernah dia sangka akan menjadi hari yang paling menyedihkan baginya disamping hari dia kehilangan sang suami tercinta. Entah bagaimana ceritanya hingga semua baju dan barang-barang sang bunda sudah tertata rapi dalam koper hitam besar. Sang bunda awalnya tidak tahu apa gerangan yang ada di dalam koper itu, beliau masih melanjutkan mencuci piring dan gelas di bantu oleh beberapa pembantu, hingga setelah selesai sang anak menghampirinya dan berkata : “mari bu, saya antar ke rumah baru ibu?”

Wanita itu tergagap dan terperangah, beliau tidak tahu apa maksud dari sang anak,” a apa, a apa maksudmu nak? Rumah baru ibu? Rumah yang mana?”
Tiba-tiba sang menantu langsung mendekat dan memeluk suaminya dan menambahi.”ya panti jompo lah, masak gitu aja gak ngerti. Kita sudah capek ngurusin ibu dan capek tiap hari bertengkar mulu, kami ingin hidup tenang.”

Kata-kata itu spontan menyayat hati sang bunda, matanya berkaca-kaca, dia memandang sang anak. Para pembantu di belakang malah sudah menitikkan air mata. “apa nak? Kamu mau memasukkan ibumu yang sudah tua ini ke panti jompo? Tempat dimana orang-orang tua ditelantarkan anaknya?” aku pun meluncur jatuh dari mata sang bunda. Tangisnya menjadi, pulutah tetes dariku terjun tanpa meliuk di pipi dan dagunya. Tangannya keras memegang baju sang anak.”kamu mau mengusir ibu?hah?kamu mau ibu pergi dari sini?...JAWAB!!!”
“IYA…AKU MAU IBU PERGI DARI RUMAH INI DAN HIDUP DI PANTI JOMPO!!!” gertak sang anak.
Sang ibu terjatuh ke lantai, saat aku menjadi saksi karena aku berderai dari mata tuanya. Sang ibu terduduk lemas di lantai sambil memegangi kaki sang anak.” Tolong jangan usir ibu nak, ibu yang telah mengandung kamu selama Sembilan bulan, ibu yang melahirkan kamu dengan taruhan nyawa ibu, ini….ini bekas jahitan waktu ibu melahirkan kamu’ sang ibu langsung menyingkap daster panjangnya dan memperlihatkan garis panjang bekas jahitan operasi sesarnya dulu. Namun sang anak tak mau peduli.

“ibu ingin tetap tinggal disini nak, tolooongg..banyak kenangan indah ayahmu dan keluarga kita. Rumah ini adalah rumah perjuangan kita berdua. Tolong, ibu ingin menghabiskan masa tua ibu disini.” Sang ibu tetap memohon dengan aku yang tak pernah berhenti mengalir “apa salah ibu? Apa nak? Ibu telah merawatmu dan membesarkanmu hingga seperti sekarang, ibu telah mendidikmu, darah dan air susu ibu mengalir dalam tubuhmu, lantas inikah yang kau berikan pada ibu? Ibu tidak ingin apapun darimu nak, ibu hanya ingin menunaikan kewajiban ibu sebagai seorag ibu hingga akhir hayat ibu setelah terselesaikannya tugas ibu sebagai seorang istri ketika ayahmu pergi. Tolong nak biarkan ibu disini, ibu tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu…”
Sang anak tidak menggubris dan justru menyeret sang ibu ke pintu depan dan ingin memasukkan ke dalam mobi. Sang ibu meronta dan menjerit sejadinya. Para pembantu melihatnya dengan iba namun tidak ada yang bisa mereka lakukan. Dia mengenal sang ibu dengan baik karena bertahun-tahun mereka mengabdi di keluarga itu. Mereka tahu sikap ramah dan dermawan sang ibu, sikap yang tulus seorang ibu, keimanannya. Semua yang mereka ketahui adalah kebaikannya selama mereka menginjakkan kaki pertama mali untuk bekerja di rumah keluarga Dharmo ini.
“Tunggu..!” sang ibu melepaskan pegangan yang membuatnya terseret dan kemudian berdiri, entah kekuatan apa yang membuatnya menjadi seperti ini, mampu berteriak dengan keras selayaknya seorang induk liar yang sedang melindungi anak-anaknya dari bahaya pemangsa lainnya. “baiklah, apabila ini yang kamu mau anakku.” Dia menyekaku dengan kain jilbabnya yang terjuntai menutui dada.”kalau ini yang kamu mau ibu akan pergi, ibu akan memenuhi keinginanmu, namun satu yang aku minta.” Kemudian dia berjalan menuju salah satu sisi dinding rumah dan mengambil foto keluarga yang tergantung disana, pada poto tersebut terdapat dirinya, suaminya dan anaknya yang masih kecil.”entah setan apa yang merasukimu anakku, apa hasutan perempuan ini?” jari telunjuknya tepat berada di depan muka menantunya. “perempuan yang kamu entas dari lokalisasi, perempuan yang kamu mulyakan yang dulunya berstatus pelacur….” Sang menantu tersentak dan bertanya bagaimana bisa perempuan renta itu bisa menjadi layaknya singa betina yang siap menerkam siapa saja. Tiba-tiba…PLAKKKK..tangan sang bunda mendarat ke wajah sang menantu dengan kerasnya. Satu tamparan yang pertama dan sangat membekas dihati sang menantu.

“sejauh ini ibu hanya diam dan berdoa agar semua ini akan membaik, namun kamu hai pelacur! Perempuan hina, kamu tetaplah perempuan hina yang gila harta, apa dengan apa yang kau lakukan padaku tanpa sepengetahuan anakku kau bisa merasa menang? Tidak! Ingat perkataanku…ini adalah doa seorang ibu yang tersakiti dan orang yang terdhalimi, demi Allah yang kepadanya aku berdoa di setiap penghujung malam, demi air susu dan nyawa yang kupertarukan saat melahirkan puteraku, ingat…kau akan jatuh dalam kenistaan dan menjadi pelacur dan tidak akan terbebas dari itu sampai kamu mati jika kamu tidak mau bertaubat…dan akan selalu kudoakan padamu anakku” beliau menoleh pada puteranya “semoga kalian diberi petunjuk, bagaimanapun engkau adalah puteraku, da ingatlah! Demi rahim yang telah mengandungmu, kamu akan selalu ingat akan hari ini, aku ibumu nak…restuku akan selalu bersamamu.” Serentak halilintar menggelegar dengan kerasnya seakan turut mengamini doa sang pembawa syurga di kakinya.

Sang bunda lantas berangkat menuju panti jompo, rumah dimana dia akan bertemu teman baru seusianya, rumah dimana dia mungkin akan menutup matanya dan membawa duka terkubur dalam air matanya. Akulah yang menjadi saksi. Hari ini kembali aku menemani beliau di sisa hidupnya, di penghujung subuh, menengadahkan tangann dan memohon pada sang khaliq. “ya Allah berilah hamba ketabahan, jadikanlah hambamu yang lemah ini menjadi kuat. Ya Allah yang maha penyayang, atas nama rasa saying yang engaku karuniakan padaku saat ku sambut takdirku menjadi seorang ibu, aku memohon padamu untuk keselamatan anakku, amanahMu. Berilah petunjuk padanya, dan berilah keterangan bagi jalan hidupnya, hindarkanlah dia dari keterpurukan da kilau dunia karena susungguhnya dia adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya…..” doanya selalu mengharapkan yang terbaik bagi buah hatinya. Memang kasih ibu sepanjang masa, tak ayal syurga ada di telapak kakinya…

Aliran terakhir dariku mengalir dan menetes di pangkuannya…
Aku hanyalah butiran air mata yang menjadi saksi derunya sang pilu.

Madiun, 3 juli 2009
1 : 14 am
Andik Septyanto

0 komentar:

Poskan Komentar