---------------------> * <--------------------------

Selasa, Januari 18, 2011

this site is permanently move to
www.upasulo.wordpress.com

BIDADARI TAK BERSAYAP (bridge 2-3)

Rabu, Desember 29, 2010

Hari berganti. Sedang airmata Nisaaa tak mau berhenti. Habibah perlahan mendekati anaknya, menata bahasa sehalus-halusnya, dan berbicara sesantun-santunnya.
“Nisaa, anakku. Umi tahu ini adalah pilhan yang sangat sulit bagi kita. Maafkan Umi.”
Nisaa tak bergeming. Duduk dipinggir membelakangi Habibah.
“Nisaa....” tangan Habibah hendak menyentuh pundak anaknya ketika Nisaa segera mengelak.
“Pilihan? Pilihan apa maksud Umi? Apakah Umi memberi pilihan ketika aku dulu hendak mengaji? Apakah Umi memberikan pilihan ketika dulu aku harus mengenakan jilbab ini? Apa Umi memberi pilihan?” baru sekali ini, kata-kata bernada keras keluar dari mulut gadis jelita ini.
“Ingatkah umi sering memukuli kakiku menggunakan rotan dan mengancam akan membakar rambutku ketika aku keluar rumah tanpa menutupi aurat? Ingatkah? Bukankah Umi yang mengajarkan ini semua? Bukankah Umi yang mengajarkan adalah kewajiban bagi setiap muslimah untuk memakai jilbabnya? Lantas kenapa sekarang justru umi yang mengingkarinya?”
Habibah sudah tak bisa mengelak lagi,”Maafkan aku....Maafkan aku Nisaa...”
“MINTA MAAFLAH KEPADA ALLAH...”

BIDADARI TAK BERSAYAP (2)

Jumat, Desember 10, 2010

Kekacauan kota dimulai sejak pergantian kepala daerah yang tak hanya pintar berkata-kata tapi juga manis menutupi kebusukan. Dialah pemimpin yang dzalim. Sejak ditemukannya kelompok garis keras Islam yang beberapa kali melakukan aksi bom bunuh diri. Penyisiran setiap hari digalakkan. OPERASI PEMUTIHAN, mereka menyebutnya. Yang sebenarnya invasi pemusnahan semua muslim di seluruh penjuru kota.
Sejak dicanangkan invasi itu penjagalan manusia terjadi dimana-mana. Dengan men-generalisasi semua muslim terlebih perempuan berjilbab adalah anggota dari golongan islam garis keras. Itu yang menjadi awal mula kekacauan. Tak peduli kecaman dari berbagai pihak. Invasi tetap dilakukan. Banyak muslim yang menjadi korban pembantaian, hingga banyak tempat menjadi gundukan-gundukan pekuburan masal. Sedang disatu sisi bereka sama sekali tak bersalah. Mereka tak tahu-menahu akan gerakan itu.
“Besok akan ada pendataan penduduk”,ujar Husein.
Habibah melongok pada suaminya,”Lalu?”
“Kau tahu sendiri keadaan disini, dan aku rasa kau mengerti yang aku maksud.”
Habibah diam, hatinya bersungut-sungut. Dia mengerti apa yang dimaksud suaminya. Dengan wajah tak senang dia pergi dan untuk menggendong Ahmad, anak bungsunya yang baru berusia 9 bulan. Meninggalkan Husein sendiri dikamar.
Sembari menyusui, habibah berjalan mendekati Ubay di ruang tengah, putra keduanya. Dipeluklah kedua anaknya dengan segenap kasih sayang yang ada padanya.
“Jika nanti Umi harus mati, kalianlah bekal umi, kalianlah yang umi harap mendoakan umi”.
Meski kata itu cukup lirih namun terdengar juga oleh Nisa. “Ada apa umi? Mengapa umi bicara seperti itu?”
Sesaat Habibah menunduk,enggan untuk bercerita. Namun...
“Kau lihat sendiri Nisa. Adik-adikmu masih begitu kecil. Bahkan mereka belum mampu memasukkan makanan kedalam mulut mereka sendiri. Kau dulu juga seperti mereka. Begitu ringkih, begitu lemah. Hingga kau sebesar ini, umi dan abi yang merawat dengan tangan kami sendiri. Umi yang menyusuimu dan mengajarimu berjalan hingga kau dapat berlari. Kini kau menjadi perempuan dewasa, yang membanggakan umi kau menjadi muslimah yang taat. Umi tak begitu mengkhawatirkanmu. Umi yakin kau mampu membedakan mana yang baik untukmu dan agamamu. Umi percaya padamu sepenuhnya Nisa. Itu mengapa umi tak mau dan tak mampu memaksakan kehendak atasmu. Bukan berarti umi tak sayang atau tak peduli. Sekali lagi karena umi percaya, umi yakin kau bisa.” Tak ayal kini mata Nisa berkaca-kaca. Setelah sekian lama tak ada rasa yang muncul di dalam hatinya. Kini kesedihan seakan melahap jiwanya.
“Tapi adik-adikmu ini masih terlalu kecil untuk ditinggalkan. Mereka tak punya dosa untuk aku persalahkan atau sekedar menahan memperoleh hak mereka. Aku masih harus menyusuinya. Aku masih harus mendidik mereka. Aku tak akan bisa mati dengan tenang jika nantinya mereka menjadi orang kafir. Aku tidak akan bisa mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan Allah. Aku tak akan mampu menjawab semua pertanyaanNya jika aku mati hari ini.”
“Apa sebenarnya maksud umi? Nisa tidak mengerti” kesedihan Nisa berganti kebingungan penuh tanda tanya.
Habibah menangis tersedu-sedu. Sedang Nisa tak juga mengerti apa yang umi-nya bicarakan.
Tak lama berselang, terdengar suara serak berdehem. Husein muncul dari kamar. Matanya terlihat merah kecapaian. Wajahnya lusuh banyak pikiran. Menghempaskan badan di ruang tengah. Seakan terlihat wajahnya tiba-tiba menua beberapa tahun. Tak ada yang bisa dilakukan. Tak ada pilihan. Namun masih banyak kebingungan. Entah apa yang akan terjadi hari ini, esok, lusa. Akankah mereka akan bertahan. Atau mati selayak pahlawan di medan perang. Akidah yang senantiasa di pegang teguh menjadi taruhan. Sedang amanahnya sebagai kepala keluarga bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan.
Keluarga itu berkumpul. Dalam keadaan yang sama sekali tak diharapkan. Hari yang senantiasa ingin dihapuskan dari barisan memori.
“Besok akan ada pendataan semua warga. Kita tahu sekarang zionis berkuasa. Perempuan berjilbab akan dibunuh. Bukan hanya dia, tapi semua anggota keluarganya akan dienyahkan. Islam akan diberangus habis-habisan. Sedang kita tak bisa kemanapun dalam situasi seperti ini. Akan lebih baik jika jilbab kalian tanggalkan sementara.”

Habibah tersungkur menangis. Nisa yang kini terbakar amarah.
“Apa? Abi tadi bicara apa? Melepas jilbab? Tidak salah Bi? Demi Allah, aku tak akan pernah barang sekali melepas jilbabku! Aku yakin umi juga akan melakukan hal yang sama. Iya kan umi?” Pandangannya dilempar tajam pada sang Umi.
Airmata Habibah semakin deras. Dia menunduk dalam-dalam. Perlahan disingkapnya jilbab hingga terlihat rambut yang mulai memutih.
Nisa terperanjat. “Tidak... Tidak mungkin Umiii mau melee....” tak sanggup lagi berkata-kata. Berlari ke kamar. Tangisnya pecah.

bersambung....

BIDADARI TAK BERSAYAP (1)

Rabu, Desember 08, 2010

Angin semilir menyentuh wajahnya. Menghenyakkan kepengapan kamar yang selama berhari-hari harus terisolasi. Dia melongok keluar, melihat pemandangan kota yang semakin mencekam. Dibukanya lebar-lebar daun jendela, membukakan penglihatan akan keindahan kota kelahirannya yang sirna. Sesekali matanya terpejam. Menikmati indahnya kenangan. Saat-saat kaki kecilnya menari-nari diatas tanah berdebu. Saat-saat teman-teman kecilnya berlarian menangkap bola dan sebagian mengejar ayam. Sungguh indah.

Sungguh tragis ketika kini harus menyadari kenyataan yang berbeda sama sekali. Sungai dengan aliran air jernih yang biasa dia gunakan untuk mandi bersama kering sudah, tempat dia biasa bermain air dengan Husna, Alif, Siti dan lainnya. Banyak gundukan tanah menggunung di lapangan tempat dia dulu selalu menyaksikan pertandingan sepak bola dimana ayahnya adalah salah satu pemainnya. “Mungkin pekuburan masal!” Suaranya mendengus, menguapkan sesak yang mengganjal.

Setiap hari berita duka selalu datang menghampiri, menyisakan sebuah hitungan hari “mungkin giliranku segera tiba.” Seperti tahanan menunggu ajal di hunusan pedang algojo tak manusiawi. Seperti buruan yang hanya tinggal menunggu waktu dipanggang. Itulah dia. Itulah mereka.
“NISA! Sudah berapa kali aku bilang, JANGAN SEKALI-KALI MEMBUKA JENDELA DEPAN! NGERTI GAK KAMU?!” suara serak lelaki membentak. Menarik tubuh Nisa dan segera menutup jendela.
Nisa hanya diam. Entah apa yang ada diperasaannnya. Matanya menatap kosong. Tak ada guratan air mata yang hampir mengalir. Seakan hatinya mati.
Husein, sang Abi lantas menarik kasar tangan Nisa dan mendudukkannya di ruang tengah bersama sang umi serta kedua adiknya yang masih kecil. Disanalah sang Abi marah sejadinya.
“APA KAMU TIDAK TAHU? TIDAK MENGERTI NISA? KAMU TULI? SUDAH BANYAK KORBAN YANG JATUH DILUAR SANA. PAGI TADI HUSNA MATI KONYOL SETELAH MENCACI MAKI TENTARA-TENTARA ITU. KAMU MAU SEPERTI DIA? HAH?”
Nisa tetap bungkam. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Namun beberapa kali pandangannya mengarah ke umi-nya yang tengah menggendong adiknya.
“KALAU KAMU TETAP BERSIKERAS. KELUAR SAJA DARI RUMAH INI. JANGAN MEMBAHAYAKAN UMI DAN ADIK-ADIKMU!”
“CUKUP ABI!” umi menyahut, “ ABI SUDAH KETERLALUAN. ISTIGHFAR!!!”

Teriakan lelaki paruh baya itu mereda. Nisapun sudah lari ke kamarnya. Entah apa yang dia lakukan. Tak seorangpun tahu apa yang ada di pikirnya, termasuk umi sekalipun. Bahkan mungkin tiap orang disini sudah berubah. Menjadi kasar dan suka membentak. Tak seperti dulu begitu ramah dan menghormati orang lain. Namun masa bergulir dengan cepatnya. Menjadikan indah semua kenangan.

Umi yang masih menyusui Ahmad punggungnya terlihat bergetar. Rumah tangga yang dari dulu dibinanya kini sudah tak manis lagi. keharmonisan itu seperti menghilang ditelan alam. Tak ada canda tawa saat menyaksikan siaran berita di televisi, tak ada berebut makanan di meja makan saat sarapan. Namun mulutnya harus terbungkam. Sudah sifatnya tak suka banyak mengubar kata. Dialah seorang ibu yang santun. Santun kepada suami, santun kepada anak dan santun dalam kehidupan bermasyarakat. Aktif dalam majlis keagamaan, bahkan menjadi salah satu pengurus lembaga Islam ternama dikota itu. Ummu Habibah, wanita yang paling suka mengkampanyekan peran wanita dalam membangun rumah tangga sakinah, mawadah, warahmah kini tersungkur dalam ketidakmampuannya menjaga keluarganya sendiri. Itulah yang membuatnya menangis setiap malam. Dalam munajatnya. Dalam tahajudnya.


bersambung....

DEKAP HAMPA SANG BUNDA

Selasa, November 02, 2010

Aku semakin bingung. Memandangi langit, tetap kelam dengan debu beterbangan. Kata beberapa orang seperti hujan salju didaratan Eropa. Aku hanya tersenyum saja. Semuanya benar-benar telah berbeda. Kami semua sama. Sama-sama tidak punya. Hanya kumpulan orang yang bernasib serupa dan menggantungkan asa datangnya bantuan segera.

Bagunan ini cukup luas dan kokoh namun sesak oleh puluhan pengungsi. Barak pengungsian selalu sama. Pengap dan bau. Untungnya aku selalu mengikuti kegiatan pramuka, kemah udah barang tentu jadi hal yang biasa. Aku dapat melihat beberapa orang dengan keegoisannya tak bisa berbagi kepedihan. Maunya menang sendiri. Tak lazim untuk situasi seperti ini. Merapi masih bergemuruh dengan ganasnya. Tak ada yang tersisa. Tak ada yang perlu di banggakan atau dipamerkan disini. Tak pula orang-orang yang biasanya bergelimangan harta dan hidup dirumah mewah. Kini yang ada hanya lantai dan tikar untuk tidur bersama. Kembali aku tersenyum. Bencana kadang menyadarkan kita semua.

Seketika aku terperanjat. Seorang wanita paruh baya berteriak-teriak dengan pilunya.
“TIDAK...DIA LINTANG...ANAKKU!”
“TIDAK..!!! DIA ANAKKU BU...BUKAN ANAK SAMPEYAN.” Ibu lain menyahut.
“SAMPEYAN YANG MENGAKU-AKU. ENAK SAJA. INI LINTANG...ANAKKU!” wanita paruh baya yang bermuka kusut dan rambut acak-acakan menimpali.
Sesaat mereka saling mendorong memperebutkan bayi laki-laki nan mungil itu.
“ANAKE SAMPEYAN ITU SUDAH MATI!”
“HEH! JAGA MULUT SAMPEYAN BU...LANCANG!”
“WIS....WIS...BUBAR!” seorang laki-laki menengahi,”Sini dek, kasih bayi itu ke aku.” Dari situ aku tahu dia adalah suami dari ibu-ibu bermuka kusut itu.
“MBOTEN..MBOTEN MAS...AKU SAJA YANG GENDONG.” Ibu itu tetap bersikeras.
Tak segan-segan laki-laki itu merampas bayi yang ada didekapan sang istri dan memberikannya pada ibu satunya.
“MBOTENNN...MBOTENNN MASS....” ibu bermuka kusut itu kembali meraung-raung.

Sang suami langsung mendekap istrinya yang akan kembali merampas bayi itu. “Sadar dek, sadar...Lintang udah gak ada. Sing sabar yo...Tabah.”
Seketika si istri menghempaskan pelukan suaminya,”SAMPEYAN SAMA SAJA MAS. SAMPEYAN TEGA NGOMONG LINTANG MATI? BAPAK MACAM OPO SAMPEYAN?”
PLLAAAKKKK!!!! Sebuah tamparan keras melayang dari tangan laki-laki itu. Menyisakan sang istri yang terhuyung kedinding.
“SADAR DEK...SADAR!” seakan laki-laki itu memendam penyesalan atas apa yang baru saja dilakukannya.

Wanita itu tertunduk lemas. Punggungnya bergerak. Tangisnya pecah. Laki-laki itu kembali menghampirinya. Memeluknya. “Maaf dek, aku khilaf”.
“Lintang masih kecil mas. Baru sebulan. Mboten sak mestine dia meninggal. Napa bukan aku? KENAPA BUKAN AKU SAJA YANG MATI!!! Bunuh aku mas...bunuh...Aku pengin nyusul Lintang.”
“Istighfar dek...Istighfar...” jawab sang suami menenangkan
“Aku sudah nunggu Lintang 10 tahun mas, 10 tahun aku sudah dikira mandul, 10 TAHUN MASSS...10 TAHUN! Sampai-sampai Sampeyan diminta menceraikan aku. 10 tahun aku doa ke Gusti Allah supaya dikasih keturunan. Untuk membuktikan aku tidak mandul... MBOTEN GABUG!”, air matanya mengalir tak terbendung,”sampai aku ngandut, aku hamil 9 bulan mas. 9 bulan Lintang di dalam sini”, dia memegang perutnya.”Akhirnya Lintang lahir. Aku seneng banget mas...”
“Tapi Lintang sudah meninggal dek.”
Wanita sekonyong-konyong meremas payudaranya,”aku belum genap menyusuinya mas... aku masih mau menyusuinya sampai beberapa tahun kedepan. Aku masih pengin menggendongnya dan meninabobokannya. Aku pengin jadi ibu yang baik mas... Aku pengin ngrawat Lintang sampai dewasa. Aku pengin dengar dia memanggilku Ibu, aku ingin dia merepotkanku tengah malam. Membangunkanku untuk mengganti popoknya. AKU PENGEN MASSS!!!” isak tangisnya semakin kencang.”AKU GAK MANDUL MAS. AKU BISA PUNYA ANAK. TAPI AKU BUKAN IBU YANG BAIK.”

Setelah lebih tenang, dan ibu itu terlelap. Barulah aku mendekati laki-laki yang sepertinya seumuran dengan bapakku. Disitu aku mengetahui namanya Pak Parmin dan istrinya Bu Sureni. Kemudian Pak Parmin menceritakan tentang anaknya yang bernama Lintang. Jabang bayi yang baru berusia 1 bulan.
“Dek Bayu tahu sendiri bagaimana kejadian kemarin.” Aku mengangguk. Beliau melanjutkan,”Merapi mengamuk dengan ganasnya. Tim SAR dan semua relawan ambil andil dalam mengevakuasi kita. Saya dan Reni segera berlari masuk kedalam mobil box yang membawa kita seperti sapi. Reni tak sempat memakaikan baju Lintang. Jadi Lintang telanjang saat kami ajak berlarian. Begitu keluar rumah. Hawa panas segera menyeruak. Seketika insting seorang Ibu untuk melindungi anaknya muncul di benak Reni. Dibukalah sweaternya untuk diselimutkan ke tubuh Lintang. Didekaplah erat si jabang bayi. Setelah sampai di tempat ini, Reni menjerit-jerit, Lintang sudah tidak bernafas. Anak kami meninggal.”Mata bapak itu berkaca-kaca.”setelah diperiksa dokter, ternyata ada gangguan pernafasan. Entah karena di tutup sweater atau karena debu dan belerang yang hanya menyisakan sedikit oksigen. Sejak itulah Reni seperti ini.”

Belum lama berselang ada suara teriakan dari arah belakang gedung, “PAK PARMIN, CEPAT KESINI. BU RENI MAU GANTUNG DIRI!!!”

Kami spontan lari kebelakang dan mendapatkan Bu Reni yang hampir menghabisi dirinya sendiri. Pak Parmin menariknya dan segera mendekap erat istrinya. Airmatanya benar-benar deras kali ini.
“Istighfar dekkk...Istighfar. Astaghfirullah hal adzim!”
“Mas Parmin mboten bakal ninggalin aku? Mas Parmin gak bakal menceraikan aku kan?”

Dan akhirnya tak kuasa aku menahan tangis.

TemanSaya

Share it

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Comments