Selasa, Januari 26, 2010

TANAH



tanah, dari itulah kita berasal. iya tanah. tanah yang sering kita injak-injak. tanah yang kebanyakan dari kita terlamapu sombong untuk memegangnya. jijik lah. kotor lah. hingga hampir semua hal yang berbau tanah ditutupi sebisa mungkin. di jalan. dirumah. padahal tanah jualah salah satu sumber kehidupan. dia yang menyerap air hingga tak terjadi banjir yang kerap melanda. darinya tumbuh tanaman yang memberikan kita nafas dan makanan. dari dialah semua itu. namun adakah kita merasakannya. bahwasanya kita pula bagian darinya. kita juga diambil darinya. di cetak sedemikian rupa kemudian diberi nyawa. dengannya dijadikan tulang, daging dan kulit yang sekiranya tergores akan keluar darah.
tanah. itu tanah. yang kita liat dalam cermin setiap saat. yang gambarnya terpampang dalam setiap sudut kamar dan di berbagai halaman situs. itu tanah. namun kadang kita terlalu sombong. terlalu congkak untuk mengkuinya. terlalu terpukau dan senang dengan puji. cantik. tampan. menarik. namun ketika acap kali otak berbicara dan hati yang menengahkan, muncullah perasaan itu. perasaan rendah. perasaan hina. dan bukan apa-apa. kita tak lain hanyalah seonggok tanah. kita hanyalah sejengkal tanah. yang kiranya tidak dihidupkan laksana patung-patung tanah di tepian jalan.

Sabtu, Januari 09, 2010

NAMAKU RYAN

Namaku Ryan. Memang aku dilahirkan dengan segala keterbatasan. Hidup dengan hanya satu kaki. Menjadi yatim piatu semenjak kecil. Dan hidup sebatangkara dengan berbagai cacian yang mendera.
Berbagai cobaan alih-alih datang silih berganti. Kadang tak kuat rasanya aku melewatinya. Dan Rata Penuhketika malam menjelma menyelimuti bumi, sering aku berkata”mengapa aku tak ikut mati?”. Sungguh menyedihkan ketika harus mengingat kejadian malam itu. Kejadian yang membuatku menyandang predikat yatim piatu seumur hidupku. Malam dimana kereta itu menembus mobil yang kutumpangi dan meremukkan tubuh orangtuaku. Sungguh menyedihkan. Darah mengalir. Tulang belulang berhamburan.
Dan kaki kananku adalah satu korbannya.

Tiap kali hembusan bisikan setan membujukku. Betapa kejam Tuhan padamu. Waktu kecilmu yang tak berdosa. Ketika kamu harusnya dipeluk dan dimanja dengan hangatnya kasih sayang orang tua, Dia justru mengambilnya darimu. Dia membiarkanmu hidup dengan hanya satu kaki, dan membuatmu susah karenanya. Betapa kejam dia Padamu. Lantas mengapa kamu masih mau bersujud padaNya. Dia yang membuatmu hidup dalam deraan caci dan maki. Kamu yang dibuatNya tak berharga layaknya hewan peliharaan atau bahkan barang tak berharga. Kamu yang dibuatnya tak memiliki teman yang benar menyayangi bahkan tak ada seorangpun yang peduli. Lantas mengapa? Bahkan dia tak pernah memberimu apapun yang lebih berharga dari sekedar penderitaan. Dialah yang bertanggungjawab atas segala kesedihan dan airmata. Atas segala hinaan dan penderitaan yang kamu rasakan. Lantas apa yang akan kau pertahankan? Apa kau masih percaya Dia menyayangimu dengan apa yang kau miliki saat ini? Bodoh sekali kau berfikir seperti itu. Dia hanyalah ingin menyiksamu di dunia ini. Ikutlah denganku, patuhi nasihatku. Dan akan kubuat bahagia kamu selamanya.

Selama ini memang itu yang kurasakan. Semua orang menghina atas segala keterbatasan yang kumiliki. Tak ada yang mau mencoba mengerti aku juga tak pernah menginginkan ini. Aku tak pernah berharap menjadi yatim piatu di usia dini. Aku ingin bersama ibu, bersamanya. Dipeluknya. Dan dimanjanya. Aku ingin mendengar segala nasihatnya. Aku ingin mendengar dengungan lagu dan cerita sebelum tidur. Aku ingin….
Jua aku ingin bersama ayah. Belajar bersamanya. Bermain dan mendapatkan petuah. Aku ingin…
Bersama mereka aku ingin bersembahyang. Berangkat ke masjid bersama. Atau berjamaah dirumah. Aku ingin berpuasa bersama,berbuka dan memohon maaf dengan mencium kaki mereka tatkala lebaran tiba.
Aku ingin disanjung mereka ketika nilai raportku bagus dan ketika memenangkan berbagai lomba akademik. Ku ingin bersama mereka ketika merayakan kelulusan kuliah, wisuda. Namun…mereka sudah tak ada. Begitu cepat.

Kadang kupikir memang benar apa yang dikatakan oleh hatiku, yang dibisikkan olehnya. Mengapa aku harus tetap sholat? Puasa? Dan berusaha mencintai Tuhan dengan segenap rasa yang kumili, sedangkan Dia tak pernah mencintaiku atau bahkan melihatku. Untuk apa? Apakah berguna segala ibadah yang aku lakukan. Sampai saat tidak ada yang aku rasakan. Tidak ada perubahan. Lantas apa yang aku pertahankan. Hingga saat mimpi itu datang.

Tiba-tiba aku berada di tempat yang asing. Yang tak pernah kulihat sebelumnya. Rumah2 terbangun indah dari emas dan permata. Kilauan cahaya mengkilat dari atapnya yang terbuat dari berlian. Sungai mengalir tenang dibawahnya. Pohon-pohon sejuk berdiri melingkarinya dengan berbagai buah bergelantungan. Kullihat dua sosok orang berjalan keluar dan mendekat kepadaku. Semakin mendekat, aku tahu mereka adalah orang tuaku. Ayah dan ibu. Aku berlari dan segera berhambur pada mereka. Aku memeluk mereka erat seakan tak mau melepaskan barang sedetik. Akhirnya aku diajak masuk ke rumah tersebut. Benar-benar indah. Rumah yang tak pernah kutemui dan sepertinya tak akan pernah ada di dunia. Aku didudukkan di kursi yang terbuat dari beludru halus dan empuk berwarna hijau. Tirai bergelantungan berkilau cahaya. Air, susu dan madu berkecipak dibawahku. Dibawah lantai yang transparan itu. Sungguh aku tak menyangka berada di tempat seperti itu. Aku masih dalam pelukan ibu dan buaian ayah.
“ayah dan bunda kemana saja? Kenapa aku ditinggal begitu saja?”
“kami tidak meninggalkanmu nak.” Ibu menjawab
“tapi aku sendirian.”
“kami selalu bersamamu anakku. Ketika kau rindu dan mengingat kami. Kami selalu datang kepadamu. Kami menemuimu. Dan ketika kamu menangis memanggil nama kami. Kami ada disampingmu dan juga menangis bersamamu.’ Ayah bergantian menjawab
“dimana? Aku tak pernah melihat.”
“kami ada disampingmu, namun kita dipisahkan oleh dimensi yang berbeda yang tidak tertembus oleh mata manusia. Matamu. Namun masih bisa dirasakan. Kaupasti merasakan kami ada kalau kamu merasa.”
“iya nak”,ayah menyahut,”kami tidak terlihat bukan kami tidak ada. Kami ada didekatmu. Memelukmu dan menciummu. Kami mendengar segala keluhmu. Kami tahu.”
“kami benar-benar menyayangimu nak, kami selalu ada didekatmu. Melihatmu dan mengawasimu agar tidak salah langkah dalam hidup. Kami bangga kepadamu nak, kamu memang anak yang baik dan sholeh.” Bunda menyahut.
“ingat anakku. Ada yang lebih menyayangimu daripada kami”,aku mengernyitkan dahi.”dia selalu disampingmu meski tak kau lihat. Dia memelukmu meski tak kau minta. Dia mencintaimulebih dari siapapun. Dia yang menhgajarkanmu kasih sayang. Menganugerahimu dengan kehidupan di siang dan malam. Memberimu pengertian dan mengajarkanmu hidup. Dia yang mengujimu agar kau menjadi manusia yang lebih hebat. Dia yang sedih ketika kau menggugatnya. Dia yang sedih ketika kau mengatakan hidupmu tak adil. Dia yang menangis ketika kau berkata Dia tak adil.”
“namun Dia yang terharu ketika kau senang. Dia yang senang ketika kau bersembahnya. Dan dia yang cemburu ketika kau percaya pada bujuk rayu setan.”
“siapa Dia?” aku bertanya
“Dia adalah Tuhan semesta alam.

SURAT CINTA UNTUK AYAH

12 Oktober 2007
Kepada :
Ayah tercinta
Di tempat


Asslamu’alaikum Wr. Wb.
Matahari telah pulang ke persinggahannya, kini bulan mengganti menyinari bumi. Percikan air hujan pula telah membasahi gambut yang mengering, bergemericik mengiringi suara gema takbir malam ini. Esok hari Idul Fitri. Idul Fitri yang ke dua. MasyaAllah, sudah dua tahun lamanya nanda tidak menyapa ayah. Maafkan nanda ayah. Ngomong-ngomong bagaimana kabar ayah? Pasti baik, ayah siapa dulu!
Tahun lalu Andy lulus yah. Andy wisuda. Andy memakai toga kebesaran dan pin kelulusan juga disematkan. Andy lulus dengan predikat cumlaude, predikat yang diberikan hanya untuk mahasiswa dengan indeks prestasi lebih dari 3,5 , jarang loh yah yang dapat nilai seperti itu. Anak ayah pinter kan! Jelas dong!
Tapi mengapa ayah tidak datang? Mengapa yah? Ayah yang selama ini kerja keras hanya untuk menguliahkan nanda agar menjadi orang yang berpendidikan dan mendapat hidup yang lebih layak, malah melewatkan saat indah seperti itu. Detik-detik nanda dipanggil ke atas panggung dan diberi plakat kelulusan, ayah tidak ada. Dimana ayah? Disaat nanda ingin mendapat pelukanmu dan ucapan banggamu. Disaat nanda dapat berlutut dan mencium kakimu. Disaat nanda dapat berpoto bangga denganmu berlatar belakang kampus. Yang ada hanyalah kecupan bunda, seorang yang selalu setia menemani nanda. Beliau juga merindukanmu dan titip salam untuk ayah tercinta.
Sungguh nanda iri ayah, iri dengan teman-teman yang mendapat sambutan hangat kedua orangtua mereka. Merayakan kelulusan dengan pesta keluarga. Tapi sayang, bunda sudah terlalu tua untuk itu. Beliau hanya dapat hadir dan duduk sendiri di kursi pojok belakang sampai acara selesai, dan kemudian pulang. Lihat, ibu yang saat itu sedang sakit menyempatkan diri hadir, mengapa ayah tidak? Mengapa ayah? Air mata ini sungguh tidak dapat nanda tahan lagi.
Setelah dua tahun nanda baru dapat menerima ini. Setelah dua tahun nanda baru dapat mengirim sepucuk surat ini, dengan kerinduan yang tiada terbendung lagi. Setelah dua tahun nanda mengutuk diri sendiri dan sering mencaci Ilahi. Mengapa Ayah meninggal begitu cepat? Mengapa ayah meninggalkan kami? Mengapa ayah begitu tega? Apalagi setelah tahu itu terjadi gara-gara nanda. Sungguh nanda menyesal. Nanda mohon maaf ayah. Ibu telah menceritakan semuanya. Semuanya yang ayah rahasiakan karena kebesaran hati ayah. Sungguh nanda sangat berdosa.
Ayah bekerja dengan mesin jahit tua sampai larut malam meski bronchitis telah menyerang dengan tingkat terparah. Dan ketika uang terkumpul untuk pengobatan ayah, ayah justru memberikannya pada nanda untuk membayar kuliah. Mengapa saat itu ayah tidak bilang? Mengapa? Ayah justru memberikan seulas senyum dan anggukan bangga, seakan-akan ayah tidak sakit sama sekali. Hanya demi nanda engkau berani mempertaruhkan hidup menahan rasa sakit. Nanda sungguh anak yang tidak berbakti.
Tahukah ayah apa yang terjadi setelah ayah dengan tega meninggalkan kami? Ibu yang dari dulu hanya seorang ibu rumah tangga mulai bekerja menjadi buruh tani. Demi nanda, ayah. Dan juga demi amanah ayah agar nanda tetap kuliah. Dan, akhir-akhir ini baru nanda dengar bahwa saat itu ibu hanya makan sehari sekali, hidup hemat untuk membiayai nanda sebagai pengganti ayah. Nanda hanyalah anak yang merepotkan.
Satu per satu barang-barang di rumah terjual. Mesin jahit ayah, mesin obras dan lain-lain. Akhirnya cincin dan kalung permata bunda yang ayah berikan sebagai mas kawin juga terjual. Hal yang paling membuat sedih bunda. Tapi mengapa ayah dan bunda merahasiakan ini semua? Mengapa? Bunda hanya bisa menangis ketika nanda bertanya, sehingga nanda tidak pernah bertanya hal yang sama. Maafkan nanda…
Saat ini hidup kami serba cukup, bahkan lebih kalau dilihat dari materi. Tapi, kami tetap kekurangan sosok pahlawan seperti engkau ayah. Yang selalu melindungi dan mengayomi kami. Memberikan yang terbaik meski engkau sendiri mendapat hal yang buruk. Mengulas senyum meski engkau sakit. Kamar tidur nanda sekarang dilantai dua, mimpi masa kecil yang baru terlaksana. Ingatkah ayah, waktu kecil nanda selalu merengek meminta rumah susun dan kamar dilantai atas. Ayah hanya senyum dan mengangguk. Nanda belum mengerti arti senyum dan anggukan ayah hingga setiap pagi nanda selalu menangis meminta kamar dilantai dua. Akhirnya ayah yang pintar dan penuh ide membuat ranjang susun, nanda tidur diatas. Solusi yang cermat ayah? Atau memang nanda yang bodoh? Hee…
Mimpi-mimpi memiliki hidup yang lebih baik telah terkabul, berkat ayah. Karena ayah nanda bisa sesukses ini. Menyenangkan bunda, tapi bagaimana dengan ayah? Nanda belum sempat membahagiakan ayah sama sekali. Hanya doa yang dapat nanda berikan di +sisa umur nanda. Berharap ayah disana mendapatkan hidup seindah kami disini. Ayah, sekarang banyak sekali saudara yang dulu mencibir ayah dan bunda menyambangi kami. Dulu mereka menghina ayah dan bunda yang miskin, tapi kini takdir membuka mata mereka bahwa Allah tetap bersama kita. Syukur alhamdulillah ayah berhasil menyambung tali silaturahmi ini kembali.
Besok hari raya, ayah. Idul Fitri. Nanda ingin sungkem kepada ayah, bersimpuh di kaki ayah dan mencium tangan ayah untuk meminta maaf. Tapi…
Sungguh nanda rindu dengan ayah, rindu sekali. Setiap malam nanda sempatkan berdo’a dan menitipkan sebuah salam untuk ayah, apakah ayah menerimanya? Sekarang nanda memegang teguh pesan ayah bahwa Allah itu adil. Apa yang diberikanNya adalah yang terbaik. Nanda yakin sekarang ayah. Allah mencintai kita lebih dari apapun dan siapapun. Nanda juga ikhlas dengan kepergian ayah menuju ke dzat yang lebih mencintai ayah dan ayah cintai.
Ayah, insyaAllah tahun ini nanda dan bunda akan berangkat naik haji. Bunda bilang salah satu mimpi besar ayah yang belum terlaksana adalah pergi haji, maka dari itu nanda akan meneruskan mimpi ayah untuk beribadah ke baitullah. Nanda berniat haji untuk ayah, semoga kemabruran nanda terlimpah kepada ayah.
Sekian dulu ungkapan rasa rindu nanda kepada ayah tercinta. Helaian kertas ini nanda letakkan diatas pusara ayah, semoga sang malaikat penjaga memperkenankan ayah membaca. Disini nanda akan selalu berdoa semoga ayah diberi kebaikan dan semoga kita berjodoh untuk bertemu dan bersama dalam syurga-Nya. Amin…
Nanda sayang ayah…

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Dari nanda,

Andy Sept

MAKSIAT MEMBUNUHKU


Ketika titik dosa sudah melumuri hatiku
Membiarkannya menjadi lekat dan beku
Kaku…
Kaku…
Tiada dapat terlunak dengan sentuh

Satu demi satu kemaksiatan telah kulakukan
Meninggalkan luka di jiwa tak tiada pernah akan sembuh
Sungguh akan menjadi catatan kelam
Ketika jiwa ini telah berlabuh

Dihamparan pasir ini
Tergolek jasad tak berguna
Yang tiada titah dari yang kuasa
Kumanpun sungguh enggan menyentuhnya
Alangkah hinanya…
Hina…

Seonggok daging dari air hina
Yang menghinakan diri dengan cara yang hina
Kembali padanya dalam keadaan hina
Niscayalah disana dia akan dihinakan

Aku tau itu
Aku tau apa yang seharusnya aku perbuat
Dan seharusnya tidak
Hati ini telah dipimpin memijakkan kaki pada arah yang tepat
Tapi hasrat…nafsu…birahi…
Menjadi mata panah yang seolah-olah akan melumat jantung
Menyuruh dengan sekuat tenaga
Untuk membangkang hati
Aku…
Akulah orang itu.
Orang yang menghinakan diri dengan barang-barang hina
Yang dengan sengaja menjauhkan diri dari kasih ilahi.
Sungguh sakit hati ini
Meronta pada tubuh hanya sekedar bersujud
Merendahkan diri
Demi dapatnya dia terisi dengan cinta sang pencipta

kasihMu semakin hari semakin jauh dariku
peraduan yang temukan hanyalah semu
bak fatamorgana di sahara
menipuku dengan air syurga
meski telah jelas kaki ini menapak pasir neraka

duhai Rabb…
sang maha pengasih dan penyanyang
kasihanilah hamba
kasihanilah diri yang selalu menghujamkan belati pada dada sendiri
kasihanilah hamba yang selalu menyesatkan hati
kasihanilah hamba yang selalu meenjauhkan diri
kasihanilah hamba untuk mendekatiMu kembali
sayangi hamba
sanyangi hamba karena telah lalai terhadapmu
sayangilah hamba yang selalu menyesali kesengajaan
sayangilah hamba yang memohon engkau menyayangi hamba
sayangi hamba



ketika nikmat taqwa sudah tiada di dada
maka airmata darahpun tiada dapat mengembalikannya
bersyukurlah wahai manusia
yang dapat menawan cinta Allah didadamu
bersyukurlah…..
karena sinarnya tiada akan pernah padam meski tubuh telah terbenam


MeAnd_IX
Saturday, June 23, 2007
23:34:22

Abu Sulaiman Ad-Darani :

1. “Wahai Tuhanku, jika Engkau menuntutku karena dosaku, maka aku akan mencari-Mu karena ampunan-Mu.
2. Jika Engkau menuntutku karena kekikiranku, maka aku akan mencari-Mu karena kemurahan-Mu.
3. Jika Engkau melemparkanku ke neraka, maka aku akan memberitahu kepada penduduk neraka bahwa aku mencintai-Mu.

AKU DAN HATIKU

Tuhanmu, Tuhanku…
Tuhan kitalah Allah SWT
Yang Maha Perkasa
Yang membangunkan bumi dari mati suri
Menyegarkan dengan butiran hujan
Memaksa rampai kembali bermekaran
Kembali menyuruh kodok berdendang
Dan menjadikan bibir ini tersenyum mengembang

Duhai diriku yang sedang melamun
Apa yang sedang kau pikirkan
Dengan mudahnya kau mengalihkan perhatian dari indahnya keindahan
An yang tiada pernah bisa dibuat manusia
Yang hanya bisa membinasakan
Duhai adakah yang lebih elok?
Adakah kau terlena olehnya?

Ya…
Aku terlena
Terlena olehnya
Apakah kau berpikir aku mangingkari keindahan ini
Keindahan yang memang tersaji sebagai berkah Ilahi
Apakah kau berpikir aku mengagumi kegilaan
Kegilaan yang benar-benar gila hingga menjadi buta
Oh bukan
Sungguh bukan
Aku disini memperhatikan keindahan lain
Yang mungkin terlewat dari sudut matamu
Duhai diriku…disana juga bermekaran kuntum mawar
Duhai diriku…aromanya semerbak kesturi
Yang dengannya aku dapat benar memuji kebesaranNya
Yang dengannya aku dapat alasan minta yang aku mau
Yang dengannya aku berharap terkabul doaku
Yang dengannya aku berharap dapat menemukan syurgaku

Hai diriku…
Celakalah engkau…
Engkau memperbudak dirimu dengan kegelapan hati
Engkau hendak menduakan Ilahi
Menumbuhkan batang birahi lebih tinggi dari cinta ke Rabbi
Sungguh aku tidak mau berdebat denganmu
Aku hanya ingin menasehati sebagai hati di ragamu
Jika memang semua ini tak lagi berlaku
Biarlah saat nanti aku yang berbicara menjadi saksi
Saksi atas kegilaanmu pada duniawi
Takkan berbalik padamu dan membangkangNya
Aku yang akan jujur atas semua kebodohanmu

Oh, betapa engkau ini
Jika engkau memang hati yang bersemayam dalam tubuh ini
Jika memang engkau memang manah yang menjadi wadah rasa
Jika memang engkau tempat kejujuranku
Dikau seharusnya benar mengerti diri sendiri
Akankah kau tidak tau apa yang aku rasakan?
Bukan…
Bukan maksud aku membujuk engkau berkata bohong membela
Tapi coba cari ke seluruh bagianmu
Carilah olehmu serpihan cinta
Pilah kepingan itu menjadi utuh untuk siapa cinta-cinta tersebut
Pastilah akan terbentuk dengan jelas siapa mereka
Dan mulailah susun menjadi sebuah bangunan yang indah dan menawan
Hingga kau dapat melihat istana cinta yang mana yang lebih megah
Lihat istana untuk jasmine-ku
Lihatlah istana untuk kedua orangtuaku
Dan akhirnya lihatlah cinta untuk yang menciptaku dari air hina
Ya!...yang beralas emas, berdinding air terjun dan beratap permata syafir berkilauan
Kini kau tahu berapa darimu yang telah tertambat
Terbenam dalam pondasi cinta pada hakimmu kelak

Oh…afwan akhi
Karena hati tak berotak maka akulah yang bodoh
Yang tidak dapat membedakan dan cenderung banyak bicara
Yang sebenarnya cetek dalam ilmu tapi ingin menyodorkan diri
Dengan harapan dikenal atas takwaku
Duhai sesal diri ini, yang selalu sok tahu atas sesuatu
Inilah riyaku
Sungguh maafku tersujud padamu

Oh tidak wahai hati…
Engkau tidak bersalah
Engkaulah yang berjasa mengingatkan aku padaNya
Tapi untuk hidup ini
Aku mohon luangkan sedikit tempat
Izinkan aku membangun istana yang megah untuknya nanti
Dia yang akan kupinang atas izin Allah kita
Dan izinkan aku memintamu berjalan sedikit
Mendekatinya dan mengetuk pintu hatinya
Dan buatlah dia dengan ikhlas membangun istana cintanya untuk kita
Dan mari kita berdoa untuk persatuan nan berbekah nantinya



Allah… let me say I love you
With all of mine fall down on knees
Honestly do everything for you…
Just for you…
Let the seeds of your love grow up in my heart
Bigger with a lot of branches
In which leaves and flowers can sit vivaciously
Then I’ll be ready to meet you in the end of my life
With a bunch of flowers that I take from it
………
Your weak creature
MeAnd_IX
Wednesday, May 30, 2007
22:39:53

TERGERUSNYA KEPERCAYAAN

Mengapa hal ini berulang terjadi padaku
Hal yang sebenarnya memberatkanku tapi tak kuasa ku tolak
Satu hal yang akan selalu menghalangi ku untuk mendekatkan diri pada sang ilahi
Kini ketersungkuran mulai merajai diri
Sialnya tiada kekuatan yang mampu menandingi
Mengapa?
Karena ini terjadi karena ku sendiri
Ku yang maui
Maka aku jua yang harus mengkhiri
Bisa…!
Sebenarnya kamu bisa wahai manusia
…kamu bisa
Ingat semua yang kamu rasakan sekarang
Keterpurukan
Kegelisahan
Kemudharatan
Kemunafikan
Kebohongan
Kekafiran
Bahkan penyesalan dapat terjawab
Ingatkah kau ketika kau menengadahkan tangan ke langit
Ingatkah kau bagaimana sambutan langit
Satu tetes airmatamu telah meruntuhkan satu lapisan langit
Malaikat beterbangan, buyar dari peraduan
Mencari siapa yang menggegerkan khayangan
Siapa lagi?
Engkaulah…!!!
Bukankah ini bukan yang pertama hal itu melanda
Bukankah engkau telah mengelami sebelumnya
Dan bukankah engkau pernah memperolah jawabnya?
Iya….
Kau masih yang sama
Ketika kau berpikir bahwa engkau semakin buruk
Maka pikiran itulah yang mnenyebakan hatimu menjauh dari rahmat-Nya
Itulah yang membuat engkau tidak percaya bahwa engkau masih layak mendapat cinta
Ingatlah Andi
Berapa besar kasih Allah yang telah tercurah padamu
Berapa besar Cinta-nya yang selalu menyertaimu
Ingatlah itu baik-baik
Perlahan pejamkan mata dan rasakan bahwa nur-Nya masih tetap menyinarimu
Mengharapkan engkau kembali mengingat-Nya
Bukan karena membutuhkanmu
Bukan…
Seharusnya bkau sadar siapa dirimu sebenarnya dan apa dayamu
Jika suatu saat kau sadar bahwa kau adalah lemah maka engkau akan senantiasa mengingatnya
Untuk berteria kasih, bersyukur, memohon maaf serta meminta perlindungan
Sekarang tanyakan pada dirimu
Apabila sang perkasa yang membuat dunia beserta isinya bahkan jagad raya dengan ribuan galaksi duduk di singgasananya, yang diada kekuatan yang dapat menandinginya, lalu akan kemana kau meminta perlindungan atasnya?
Kemana?
Kepada siapa?
Kepada siapa lagi selain padaNya jua kita kembali
Mengembalikan segala keterbatasan kita demi mendapat kebaikan
Kebaikan untuk semua beserta selamanya
Ingat kau hanya sebentar singgah di terminal dunia
Engkau hanya turun untuk makan dan minum serta menyiapkan bekalmu untuk berangkat kembali
Dan ketika engkau mencapai tujuanmu yang terakhir apa yang akan kau harapkan
Akankah kau dapat mendapat jawaban atas segala yang kau pertanyakan
Atau engkau dapat segala yang engkau impikan?
Lalu apa yang sebenarnya engkau harapkan?
Apa yang engkau idamkan selama di dunia hingga menjadikanmu lalai
Lalai dalam segala hal baik dunia maupun selanjutnya
Aduhai celakanya…
Satu hal yang seharusnya kita ingat wahai manusia
Bahwa apapun yang Tuhan berikan pada kita adalah hal yang terbaik bagi kita
Meskipun kaddang kita tak menyadarinya dan cenderung melihat segi negatifnya
Hal yang patut menjadi prinsip dasar yang menjadikan pondasi berdirinya tembok-tembok besar keyakinan serta ketakwaan
Itulah…
RASA CINTA DAN PERCAYA KITA PADA ALLAH
Hingga kita dapat menanamkan dalam hati bahwa apa yang terburuk yang mungkin terjadi di dalam hidup kita merupakan hal yang terbaik yang dipilihakan Tuhan untuk kita rasa, yang memang terbaik bagi kita karena kita hanya makhluk yang berwawasan terbatas sedang Dia yang mecipta yang jelas tahu apa yang kita butuhkan apa yang dapat kita sandang dan pikul serta apapun yang terbaik bagi kita.
Allah-lah yang paling mencintai kita apa adanya, yang tiada membeda bagi kaum yang tidak durhaka, maka yakinlah kita tiada akan tertimpa bencana jikalau tiada keputusan dari-Nya, dan Dia-lah yang tiada akan memberatkan makhluk lemah-Nya.

Sekarang lakukan…
Lakukan apa yang kamu anggap baik menurutmu
Ingat kamu punya dua sisi yang sering berlawanan
Yaitu hati dan otak…
Yang kadang saling berseru memperebutkan sesuatu
Memutuskan hal yang sama sekali berbeda
Ingat apa bedamu dengan hewan
Maka ketahuilah engkau sungguh makhluk sempurna
Yang diberikan segalanya sesuai proporsimu
Maka gunakanlah itu dengan sebaik-baiknya…
Pertimbangkan masak-masak segala yang akan kamu lakukan
Sungguh dalam dirimu ada nur ilahi
Yang menjadi kunci pembuka tabir yang menghalangimu dengan Tuhanmu
Maka perbaikilah dirimun dengan apa yang telah diberikan padamu
Niscaya kau dapat menemukan kunci itu dan dengan segera membuka tabir ilah
Dan rasakan bahwa cinta Allah senantiasa menyertaimu dan Dia selalu disampingmu
Menjadi baiklah
Menjadi baiklah
Ingat tugasmu di dunia ini
Ingat kewajibanmu
Ingat tanggung jawabmu
Kini lakukan segera kebaikan itu…
Jangan sampai maut terlebih dahulu menjemputmu


Ketidakpercayaan perlahan menggerus noktah ketakwaan
Menjadikan diri terkungkung ketidak tenangan
Ingin cepat menghadap tanpa syarat
Ingin segera berakhir namun tanpa hasil
Lelah menyusuri jalan hidup yang berliku
Menjebak dengan ganas setiap kaki yang salah menjejak
Menjadikannya mustahil berteriak apalagi bergerak
Sungguh ku rindu-i Mu
Dalah setiap detak jantung dan hembusan nafasku
Namun tubuh ini senantiasa mengingkar
Niat berkecamuk dengan syetan
Sungguh diri ini telah terpejam
Tolonglah hamba ya Tuhan………

Meand_ix
Monday, August 13, 2007
12:10:04 AM