Minggu, Juli 05, 2009

DERU SANG PILU

Lagi dan lagi aku menjadi saksi malam yang larut ini, sepertiga malam dimana seharusnya aku mengering dalam mata yang terpejam. Dingin dalam hembusan angin malam, seperti selayaknya air yang membasahi mata mereka yang melewatkan waktu berharga untuk bermunajat, waktu dimana sinaran Tuhan turun menerawang dan menyinari setiap insan di bumi tidak berlaku padaku. Senantiasa ku menahan riak gelombang yang senantiasa mendorong butiran dariku untuk mengalir dan menetes. Hampir setiap malam aku harus menemaninya dan kehilangan beberapa bagian dariku. Namun aku tak mengeluh ataupun menyayangkan, justru aku sangat bahagia setiap malam dapat menjadi pengantar doanya, ditemani dengan suara isakan yang menyayat.

Andai aku diciptakan dengan anugerah perasaan maka mungkin aku sudah lebih sedih dari perempuan ini. Aku tahu secara detil semua kisah yang memilukan tersebut. Kisah yang akan merebut perhatian khalayak apabila ada seorang pujangga berkenan membukukannya. Aku adalah salah satu saksi yang pasti akan memberatkan lelaki itu, lelaki yang telah dengan tega menyakitinya lahir maupun bathin. Namun sakit hatinya yang pasti lebih mendalam daripada sakit di badannya yang pasti akan mengering dalam satu-dua hari.

Aku menyaksikan hari itu. Hujan yang turun tanpa henti dari pagi. Burung-burung yang biasa berceloteh riang seakan terbungkam. Langit mendung seakan akan runtuh dan menyatu dengan bumi. Udara dingin menusuk tulang apalagi untuk tulang renta seperti perempuan satu ini. Perempuan yang matanya selalu terbasahi olehku, yang senantiasa pipinya teraliri olehku.
Malam begitu pekat hingga acara yang seharusnya khidmat menjadi sangat sepi pengunjung. Doa yang seharusnya menjadi dengungan upacara 100 hari wafatnya sang suami ternyata terganti dengan gemericik butiran hujan di pelataran rumah indah itu. Rumah yang tamannya banyak berdiri palem botol dan beberapa tumbuhan buah. Kolam ikan yang terhias lampu mulai dipenuhi air hujan kiriman langit.

Acara tetap berlangsung hingga beberapa jam lamanya. Suasana kembali lengang dan beberapa tamu dan handai taulan sudah berpamitan untuk undur diri kembali ke kediaman masing-masing. Perempuan renta itu membersihkan beberapa pirirng kotor yang masih berserakan di atas meja di ruang tengah, tapi apa yang dikerjakan perempuan cantik itu disana? Hanya duduk memainkan remote untuk mengganti tayangan televisi besar yang tegak berdiri diatas meja tepat di depannya. Bahkan tak segan dia menyuruh sang perempuan paruh baya ini untuk mengangkat beberapa gelas yang terlihat berat untuknya.

Sang lelaki itu mulai mendekat pada perempuan cantik yang duduk di depan televise, membelainya dan mencium keningnya. Ternyata sang wanita cantik berkulit putih tersebut adalah istri sang laki-laki yang memiliki janggut tipis. Aku juga tahu bahwa sang laki-laki itu adalah anak dari perempuan tua yang sedang membersihkan perabot kotor, anak itu memanggilnya ibu.

Dari tampangnya laki-laki itu berusia sekitar 30-an tahun, sedang dang ibu aku perkirakan selisih 25 tahun di atasnya dan wanita yang duduk si sofa merah itu tidak lebih dari 23 tahun. Sejauh ini keluarga ini hidup dengan bahagia, sangat mencintai satu sama lain, hingga kepergian pak Dharmo, suami sang perempuan tua beberapa bulan yang lalu karena kecelakaan pesawat yang sangat tragis, hingga jasadnya ditemukan tidak utuh lagi. Kemudian masuknya salah seorang anggota keluarga baru yang menjadi belahan nyawa sang anak yang dapat dikatakan telat menikah. Perempuan yang dinikahi sang anak begitu cantiknya, namun dialah yang menjadi salah seorang yang membuat anak menjadi durhaka kepada orang tua.

Gelagat jeleknya mulai terlihat setelah dua minggu pernikahannya. Suara yang lemah lembut dan sopan serta bahasa halus yang di tunjukkannya pada saat pertama kali di perkenalkan oleh sang anak berangsur menghilang menjadi nada bicara yang kasar dan beberapa kali umpatan yang tak elak hanya di simpannya dalam batin, sang ibu tak pernah mengadukan kejadian ini pada anaknya karena pernah suatu hari beliau mengadu akan kata-kata sang menantu yang dianggapnya terlalu kasar dengan menghina mendiang suaminya. Namun apa yang beliau dapat, justru marah besar dari anaknya. Beliau dimaki dengan sebutan perempuan tua tak tahu diri dan tidak tah mengerti anak muda. Entah apa yang terjadi pada anaknya, adakah hasuta yang telah merubahnya atau apakah sang ibu yang memang salah. Itu yang selalu menjadi pertanyaaan yang menggelayut di benak sang bunda. Namun seperti kebanyakan perempuan dengan hakikatnya sebagai peremuan tak urung aku yang harus berkorban membasahi sebagian pipinya, mengalir dan menetes dari dagunya, meliuk-liuk melewati garis keriput yang sudah memenuhi seluruh wajahnya.

Hari ini tak pernah dia sangka akan menjadi hari yang paling menyedihkan baginya disamping hari dia kehilangan sang suami tercinta. Entah bagaimana ceritanya hingga semua baju dan barang-barang sang bunda sudah tertata rapi dalam koper hitam besar. Sang bunda awalnya tidak tahu apa gerangan yang ada di dalam koper itu, beliau masih melanjutkan mencuci piring dan gelas di bantu oleh beberapa pembantu, hingga setelah selesai sang anak menghampirinya dan berkata : “mari bu, saya antar ke rumah baru ibu?”

Wanita itu tergagap dan terperangah, beliau tidak tahu apa maksud dari sang anak,” a apa, a apa maksudmu nak? Rumah baru ibu? Rumah yang mana?”
Tiba-tiba sang menantu langsung mendekat dan memeluk suaminya dan menambahi.”ya panti jompo lah, masak gitu aja gak ngerti. Kita sudah capek ngurusin ibu dan capek tiap hari bertengkar mulu, kami ingin hidup tenang.”

Kata-kata itu spontan menyayat hati sang bunda, matanya berkaca-kaca, dia memandang sang anak. Para pembantu di belakang malah sudah menitikkan air mata. “apa nak? Kamu mau memasukkan ibumu yang sudah tua ini ke panti jompo? Tempat dimana orang-orang tua ditelantarkan anaknya?” aku pun meluncur jatuh dari mata sang bunda. Tangisnya menjadi, pulutah tetes dariku terjun tanpa meliuk di pipi dan dagunya. Tangannya keras memegang baju sang anak.”kamu mau mengusir ibu?hah?kamu mau ibu pergi dari sini?...JAWAB!!!”
“IYA…AKU MAU IBU PERGI DARI RUMAH INI DAN HIDUP DI PANTI JOMPO!!!” gertak sang anak.
Sang ibu terjatuh ke lantai, saat aku menjadi saksi karena aku berderai dari mata tuanya. Sang ibu terduduk lemas di lantai sambil memegangi kaki sang anak.” Tolong jangan usir ibu nak, ibu yang telah mengandung kamu selama Sembilan bulan, ibu yang melahirkan kamu dengan taruhan nyawa ibu, ini….ini bekas jahitan waktu ibu melahirkan kamu’ sang ibu langsung menyingkap daster panjangnya dan memperlihatkan garis panjang bekas jahitan operasi sesarnya dulu. Namun sang anak tak mau peduli.

“ibu ingin tetap tinggal disini nak, tolooongg..banyak kenangan indah ayahmu dan keluarga kita. Rumah ini adalah rumah perjuangan kita berdua. Tolong, ibu ingin menghabiskan masa tua ibu disini.” Sang ibu tetap memohon dengan aku yang tak pernah berhenti mengalir “apa salah ibu? Apa nak? Ibu telah merawatmu dan membesarkanmu hingga seperti sekarang, ibu telah mendidikmu, darah dan air susu ibu mengalir dalam tubuhmu, lantas inikah yang kau berikan pada ibu? Ibu tidak ingin apapun darimu nak, ibu hanya ingin menunaikan kewajiban ibu sebagai seorag ibu hingga akhir hayat ibu setelah terselesaikannya tugas ibu sebagai seorang istri ketika ayahmu pergi. Tolong nak biarkan ibu disini, ibu tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu…”
Sang anak tidak menggubris dan justru menyeret sang ibu ke pintu depan dan ingin memasukkan ke dalam mobi. Sang ibu meronta dan menjerit sejadinya. Para pembantu melihatnya dengan iba namun tidak ada yang bisa mereka lakukan. Dia mengenal sang ibu dengan baik karena bertahun-tahun mereka mengabdi di keluarga itu. Mereka tahu sikap ramah dan dermawan sang ibu, sikap yang tulus seorang ibu, keimanannya. Semua yang mereka ketahui adalah kebaikannya selama mereka menginjakkan kaki pertama mali untuk bekerja di rumah keluarga Dharmo ini.
“Tunggu..!” sang ibu melepaskan pegangan yang membuatnya terseret dan kemudian berdiri, entah kekuatan apa yang membuatnya menjadi seperti ini, mampu berteriak dengan keras selayaknya seorang induk liar yang sedang melindungi anak-anaknya dari bahaya pemangsa lainnya. “baiklah, apabila ini yang kamu mau anakku.” Dia menyekaku dengan kain jilbabnya yang terjuntai menutui dada.”kalau ini yang kamu mau ibu akan pergi, ibu akan memenuhi keinginanmu, namun satu yang aku minta.” Kemudian dia berjalan menuju salah satu sisi dinding rumah dan mengambil foto keluarga yang tergantung disana, pada poto tersebut terdapat dirinya, suaminya dan anaknya yang masih kecil.”entah setan apa yang merasukimu anakku, apa hasutan perempuan ini?” jari telunjuknya tepat berada di depan muka menantunya. “perempuan yang kamu entas dari lokalisasi, perempuan yang kamu mulyakan yang dulunya berstatus pelacur….” Sang menantu tersentak dan bertanya bagaimana bisa perempuan renta itu bisa menjadi layaknya singa betina yang siap menerkam siapa saja. Tiba-tiba…PLAKKKK..tangan sang bunda mendarat ke wajah sang menantu dengan kerasnya. Satu tamparan yang pertama dan sangat membekas dihati sang menantu.

“sejauh ini ibu hanya diam dan berdoa agar semua ini akan membaik, namun kamu hai pelacur! Perempuan hina, kamu tetaplah perempuan hina yang gila harta, apa dengan apa yang kau lakukan padaku tanpa sepengetahuan anakku kau bisa merasa menang? Tidak! Ingat perkataanku…ini adalah doa seorang ibu yang tersakiti dan orang yang terdhalimi, demi Allah yang kepadanya aku berdoa di setiap penghujung malam, demi air susu dan nyawa yang kupertarukan saat melahirkan puteraku, ingat…kau akan jatuh dalam kenistaan dan menjadi pelacur dan tidak akan terbebas dari itu sampai kamu mati jika kamu tidak mau bertaubat…dan akan selalu kudoakan padamu anakku” beliau menoleh pada puteranya “semoga kalian diberi petunjuk, bagaimanapun engkau adalah puteraku, da ingatlah! Demi rahim yang telah mengandungmu, kamu akan selalu ingat akan hari ini, aku ibumu nak…restuku akan selalu bersamamu.” Serentak halilintar menggelegar dengan kerasnya seakan turut mengamini doa sang pembawa syurga di kakinya.

Sang bunda lantas berangkat menuju panti jompo, rumah dimana dia akan bertemu teman baru seusianya, rumah dimana dia mungkin akan menutup matanya dan membawa duka terkubur dalam air matanya. Akulah yang menjadi saksi. Hari ini kembali aku menemani beliau di sisa hidupnya, di penghujung subuh, menengadahkan tangann dan memohon pada sang khaliq. “ya Allah berilah hamba ketabahan, jadikanlah hambamu yang lemah ini menjadi kuat. Ya Allah yang maha penyayang, atas nama rasa saying yang engaku karuniakan padaku saat ku sambut takdirku menjadi seorang ibu, aku memohon padamu untuk keselamatan anakku, amanahMu. Berilah petunjuk padanya, dan berilah keterangan bagi jalan hidupnya, hindarkanlah dia dari keterpurukan da kilau dunia karena susungguhnya dia adalah anak yang berbakti kepada orang tuanya…..” doanya selalu mengharapkan yang terbaik bagi buah hatinya. Memang kasih ibu sepanjang masa, tak ayal syurga ada di telapak kakinya…

Aliran terakhir dariku mengalir dan menetes di pangkuannya…
Aku hanyalah butiran air mata yang menjadi saksi derunya sang pilu.

Madiun, 3 juli 2009
1 : 14 am
Andik Septyanto

Senin, Juni 22, 2009

Topeng Kebahagiaan

Kututup pintu usang bergagang emas
Menghempas jauh dari keramain
Masih terdengar riuh tawa mereka
Meski ku menjauh di sudut ruang ini
Sendiri
Sunyi
Ku menyepi...

Tak ada orang kusengaja
Agar dapat kubuka baju tawa
Tawa yang selalu ku tawarkan pada mereka
Sebagai cadar sedih dan duka
Ku tanggalkan jubah bahagiaku
Dan menangis sejadinya
Meratap...
Meratap
Dan meratap...
Tanpa tau kapan waktu akan merapat
Danau rinduku sudah mendalam dan terjal
Tumbuh palung yang susah dilewati
Namun hanya ku menunggu saatnya ku tertawa tanpa topeng

Kamis, Juni 18, 2009

Petuah Mas Nardi

Salah seorang kerabat yang telah meninggal pernah memberi petuah padaku, 'segeralah sholat le...'
'ingat orang hamil?' tambahnya 'biasanya mereka ngidamnya mangga muda kan! Bukan yang sudah masak.'
'begitu juga manusia, belum tentu yg lebih tua yang meninggal dulu,bahkan mungkin kamu yang masih muda dipanggil terlebih dahulu...'

Akankah kita selalu mengingat mati?... Satu hal yang pasti.

Perpisahan

Berjalan kususuri tebing yang curam
Berlari dari ketakutan diri
Hingga tiba ku di ujung peluh
Membuatku jatuh bersimpuh

Terjal...
Pandanganku berlayar menerawang
Menyusuri tepian bumi
Di atas awan bergerak berduyun melintasi

Senja mulai memerah
Pertanda sang surya kan berganti kartika
Hanya kusadari bahwa...
Waktu berpisah denganmu mulai terasa

Terasing ku dalam kesunyian
Menyikapi ini hanya sebuah mimpi
Dan ketika ku keluar dan menatap matahari
Ternyata ku tlah sendiri

Teriakku parau di hutan
Hanya kenanganmu bersandar
Dan kini kutau
Benar ku takut kehilanganmu

Selasa, Juni 16, 2009

Buaian Fana

sungguh indah dunia ini saat ku datangi
pasir putih bermukin di tepian pantai
membawa serpihannya terlarut air garam yang susah tuk di telan
namun tetap cantik di lihat sementara
perlahan ombak mendatangi,membelai jari kaki
mengajakku berlari menjauh dari tepi
mengikuti gulungan ombak yang semakin ke hilir semakin membesar
air yang kukenal ramah tak selalu begitu
giliran kuikuti pesona
dia mencoba untuk menjatuhkanku
menimpaku
dan tak memberiku pilihan untuk kembali

keterbuaian ini mematikan jiwa
dan tak ada lagi kata "andai"
hingga sampai saat ini aku belum mati
namun tak juga kukatakan bernyawa
ku terobang-ambing riak
entah kemana akan dia membawaku
ku tetap bertahan dan yakin akan berakhir indah
meski ada penyesalan akan buaian fana...

Bunda Bagiku (3)

· Dua hari menjelang kepulangan Arka ke tanah air…
“ Beli singkong banyak sekali bu, buat apa?” Tanya seorang wanita setengah baya yang mengenakan baju karung merah marun kepada ibu Ratih.
“Iya bu, anak saya mau pulang?” jawab Ibu Ratih pelan sembari mengangkat kekantong singkong.
Keringat membasahi kening, beberapa helai rambut berwarna putih menjuntai di antara benang jilbab yang lepas dari jahitannya. Senyum sang bunda tersungging. Jalannya sedikit goyah karena keberatan belanjaan. Suara batuknya yang sepertinya sudah mulai parah menggema seirama dengan derap langkah beratnya.
Sang ibu lantas terduduk di kursi bambu memanjang dekat penjual tempe. Mengelap bintikan air di kening dengan lengan baju kirinya. Wajahnya pucat pasi seperti seorang ibu yang sedang menjemput jihad saat melahirkan seorang manusia dari rahimnya. Beratnya perjuangan seorang ibu…

“ dek ayu tempenya sepuluh biji saja dek…” pinta bu Ratih, pandangannya sibuk mencari uang sisa belanja di kantong daster lusuh yang beliau kenakan.
“iya bu” sahut seorang perempuan manis berambut ikal, sang penjual tempe, kulitnya putih seakan bukan orang desa itu, parasnya menawan. Baru terlihat dia mengenakan kalung berliontin dua batang perak yang di susun saling menyilang serta ada gambar seorang lelaki kurus tanpa baju tergantung disana. Bu Ratih hanya tersenyum simpul. “ ini bu..” memberikan tempe pada kantong plastik kecil berwarna hitam.

Butuh waktu yang lama bagi janda paruh baya tersebut untuk mengangkat belanjaan sebanyak itu sendirian, apalagi dengan kondisi kesehatan yang tidak begitu baik, bahkan dapat dikatakan buruk. Batuknya yang seringkali menggema di seisi rumah bahkan keluar, namun tak ada yang mendengar karena rumah tetangga yang paling dekat berkisar setengah kilo. Belum lama Bu Ratih tiba dirumah reotnya, kepulan asap sudah menjulang tinggi dari perapian kayu di dapurnya yang kecil. Selama ini beliau selalu berkecukupan dalam kesederhanaan, atau paling tidak merasa begitu. Rasa syukur selalu tersujud setiap malamnya atas segala anugerah yang selama ini ia dapatkan.

Keringat di dahinya belum kering, namun keriput di wajahnya kini tidak kentara tertutup cemong jelaga yang memenuhi hampir disemua permukaan wajahnya. Wajahnya tersungging bahagia, senyum simpul menghiasi setiap hembusan nafas, selalu begitu. “Arka lusa datang”, kalimat itu yang selalu di dengungkan. Beberapa barang belanjaan dikeluarkan dari tas plastik besar. Beberapa diramu menjadi bumbu bacem yang akan di campurkan dengan tempe. “Arka suka sekali tempe bacem”.

Waktu ashar telah tiba. Ditinggallah semua pekerjaan didapur untuk sementara, pengutamaan bermunajat kepada Illahi. Setelah mandi dan berganti pakaian beliau lantas menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah yang telah mengikrarkan syahadat. Setelah semua ritual keagamaan dilaksanakan, beliau mengambil satu buah amplop yang beliau simpan dibawah kasur kapas yang terlihat sangat tipis dan berlubang-lubang. Amplop tersebut tebal, setelah dibuka memang terdiri dari lima halaman kertas putih dan satu photo 3R. Photo tersebut adalah poto Arka dengan beberapa orang berambut pirang dengan background gunung salju. Beliau mengusap gambar Arka. Airmatanya menetes perlahan. “dua hari lagi kau pulang le, ibu sudah kangen sekali. Seperti apa kau sekarang, dua tahun kau di negeri orang dan ibu hanya bisa tahu kabarmu dari surat yang kau kirimkan.” Gambar itu kemudian di ciuminya. Terpampang Arka masih menggunakan topi yang diberikan ibunya sewaktu berangkat, dan memang terlihat sedikit usang dan berubah warna. “ibu akan masak makanan yang kamu suka le….ibu sekarang juga sedang membuat tempe bacem kesukaanmu. Ibu rindu sekali padamu le..ibu rindu.” Tangisnya semakin menjadi, terisak-isak, terbatuk-batuk dan Nampak sedikit susah bernafas kemudian serentak berbaring di tempat sholat yang belum dirapikan setelah sembahyang tadi. Matanya terpejam dan tangannya masih mendekap photo anaknya.

· Kedatangan Arka
Tidak banyak perubahan di perkampungan ini. Jalannya masih sama, pasarnya masih sama, kantor desa juga tidak banyak perubahan. Namun ada yang menarik perhatian warga sekitar. Yaitu ada seorang anak muda yang tidak terlalu asing bagi mereka yang berjalan dengan sesekali menunduk ramah sembari berjalan perlahan dan tertatih dengan tas besar menempel di punggung dan dua kardus besar di kanan tangan dan kirinya. Senyum lebar melekat pada bibir sang pemuda yang terlihat pendiam.
“Arka, baru datang? Sudah ditunggu ibumu dari beberapa hari yang lalu…” sapa seorang wanita paruh baya yang dulu biasa pesan kayu bakar padanya dan pada ibunya.
“Nggih bu, terima kasih.” Sahut Arka ramah.
Arka nampak jauh lebih dewasa dibanding masa dia sebelum berangkat. Namun perangainya yang sopan dan tenang tidak pudar meski telah bergaul dengan orang luar yang berbeda budaya dan adatnya. Berjalan pelan dengan senyum yang terkembang di wajahnya ditujukan pada setiap orang yang ia temui dan sesekali menundukkan kepala sedikit apabila bertemu dengan orang yang lebih tua atau dipertuakan.

Keramaian desa perlahan tertinggal dibelakang berganti jalan utama yang sepi dan jarang dijumpai orang. Pohon-pohon yang rindang belum beruah juga, ranting kayu banyak berserakan di kumpulan semak belukar, beberapa kupu-kupu tampak bercengkerama bersama dalam kerumuman bunga yang mulai bermekaran. Senyum Arka tersungging lebar, tak jauh lagi dia dapat mekihat rumahnya dan pasti sang bunda sudah menunggu di depan rumah. “Arka kangen ibu…” air matanya terlihat berkaca-kaca disudut mata. Terlintas bayangan sang bunda yang akan menjemputnya di halaman depan, dan segera dia hampiri dan diciumnya tangan agung sang bunda, tangan yang selama ini merawat, membesarkan dan menyayanginya serta sang bunda yang akan mencium keningnnya. Sudah dua tahun ini meraka terpisah oleh jarak.

Rumah tinggalnya sudah terlihat dekat, tidak ada perubahan sama sekali selain beberapa pohon yang meninggi dan semak yang semakin menyembul di pinggir rumahnya. Tetap tempat yang tenang dan nyaman, dimana dia menghabiskan sebagian besar tenggang hidupnya. Sang bunda ternyata tak ada di teras. “pasti lagi masak…” gumamnya. Hentak kakinya semakin mantap berjalan, melintasi jalan setapak dengan rumput setinggi mata kaki.
Matanya tajam memperhatikan seluruh penjuru rumah, gentang yang agak merosot sampai pada beberapa serangga yang telah melubangi tiang kayu rumahnya. Atap teras telah memayunginya, terasa sejuk meski tak ada gerakan angin meniup, terasa dingin meski tak ada salju yang dia temukan beberapa tahun terakhir. Senyumnya semakin lebar tatkala tangannya dapat kokoh menggenggam gagang pintu dan memutarnya sehingga daun pintu dapat bergeser, menyediakan sela untuknya masuk ke dalam istananya. Hatinya berdebar kencang, kerinduan yang mendalam dan terpendam selama kurang lebih tiga tahun pupuslah sudah, rumahnya gelap dan sedikit pengap seperti sudah lama tak didiami, namun hal itu tak diperhatikan Arka, masuk ke rumah dan meletakkan barang bawaannya.

“Assalamualaikum…” tangannya mencari saklar lampu untuk menghilangkan kegelapan yang menyelimuti. “IBU….”tambahnya. tak ada jawaban. “ibu dimana ya, apa sedang masak, kebelakang, atau malah lupa kalau aku pulang..ah tidak mungkin”, dia bejalan ke dalam tanpa melepas sepatu. Terlihat banyak sekali potonya tertempel di dinding rumah. Poto saat bayi, saat dia kanak-kanak, poto keluarga, potonya yang sedang mengenakan seragam merah putih, putih abu-abu sampai pada poto yang dikirimnya semasa dia di Austalia. Poto-poto tersebut memang sengaja di temple ibu Ratih sebagai pengobat rindu, dapat dilihat dengan mudah ketika beliau lewat, santai di ruangan tersebut serta saat sebelum tidur. Gambar itulah yang menjadikan bu Ratih tidak terlalu kesepian karena merasa anaknya tetap di rumah, menemaninya. Mata Arka berkaca-kaca, dia tahu seberapa dalam rindu ibunya, namun sampai di tiba kembali di rumah dia tidak pernah mendengar kata-kata itu dalam setiap surat yang dikirim sang bunda. Entah bagaimana kuat ibu Ratih meahan untuk tidak mengcapkan itu. Arka mulai menangis. Membayangkan kerinduan ibunya, kesedihan ibunya, kesepian ibunya. “Ibuuuu….maafkan Arka bu.” Kemudian berjalan ke dapur sambil menyeka air mata yang telah mengalir sampai dagunya.

“Ibuuuu….”teriaknya sedikit keras. Sang ibu tidak juga berada di kamar mandi, di dapur yang terlihat hanya bekas perapian dan tempe bacem yang belum matang. Arka semakin kawatir. Apa yang terjadi pada ibunya. Larilah dia ke hutan belakang, mencoba menemukan sang bunda yang mungkin mencari kayu bakar. Dari semua tempat yang biasa mereka kunjungi tak jua ditemukan sang bunda. Hingga Arka memutuskan untuk kembali ke rumah untuk istirahat sebentar. “mungkin ibu ke pasar untuk membeli sesuatu.” Sesampai kembali di rumah, dia melepas sepatu yang kini terasa berat dan panas. Duduk bersandar kursi kayu tua. Membuka koper dan mengambil hadiah untuk ibunya yang disepatkan untuk dibeli di Australi sebelum kepulangannya. “Ibu pasti suka jilbab ini…”sambil memegang jilbab hijau tua bermanik.

“Sebaiknya saya simpan I lemari ibu, biar beliau yang menemukan sendiri,biar jai surprise.”beranjak dari kursi tua dan berjalan masuk ke kamar. Mencari saklar lampu yang berubah tempat dan menyalakannya. “Astaghfirullah…” alangkah terkejutnya dia setelah melihat isi kamar. ‘IBUUUUUU….” Arka berteriak kencang sambil memegang sang bunda yang terkapar di dalam kamar lengkap dengan mukena, daam posisi tertelungkup di atas sajadah. Tubuhnya sangat dingin, deru nafas seolah tehambat dan jantungpun berhenti berdetak. Di dekapnya sang bunda yang tak lagi bernyawa.”Ibuuuu…jangan tinggalkan Arka, saya mohon ibu, Arka rindu sekali dengan ibu, IBUUUU….!!!” Teriaknya. Dalam genggaman sang bunda masih terdapat foto dan surat sang anak yang terakhir dikirim untuk mengabarkan kepulangannya. Dipeluknya dan diciuminya jasad sang bunda. Kerinduan sang bunda kepada anaknya dibawa sampai liang lahat…Subhanallah.

Rabu, April 15, 2009

MASJID TERCINTA



kalau yang diatas juga salah satu masjid yang letaknya dekat dengan prambanan juga sngat dekat dengan 'masjid dufan', tepatnya setelah masjid yang berkubah warna-warni itu di kiri jalan dari jogja...
masjid ini merupakan kegemaran penulis, menjadi tempat peraduan ketika sedang gelisah dan menajadi tempat tujuan akhir perjalanan malam penulis ketika sedang banyak yang dipikirkan.
masjid ini memiliki andil yang cukup besar dalam perjalanan hidupku di jogjakarta...
....
arsiteknya sederhana namun sedikit unik karena berkesan seperti jembatan dari hall depan sampai ke dalam masjid, di bawahnya terdapat bayak ruangan yang dibagi menjadi beberapa kamar mandi dan tempat wudlu meski di lantai atas (sejajar dengan jalan raya) juga disediakan tempat wudlu.
di belakang masjid ini juga terdapat bangunan yang bentuknya ruang kelas namun penulis belum sempat menanyakan untuk apa gedung itu, pesantren, sekolah, pondok atau islamic center...
CAYO....