Aku semakin bingung. Memandangi langit, tetap kelam dengan debu beterbangan. Kata beberapa orang seperti hujan salju didaratan Eropa. Aku hanya tersenyum saja. Semuanya benar-benar telah berbeda. Kami semua sama. Sama-sama tidak punya. Hanya kumpulan orang yang bernasib serupa dan menggantungkan asa datangnya bantuan segera.
Bagunan ini cukup luas dan kokoh namun sesak oleh puluhan pengungsi. Barak pengungsian selalu sama. Pengap dan bau. Untungnya aku selalu mengikuti kegiatan pramuka, kemah udah barang tentu jadi hal yang biasa. Aku dapat melihat beberapa orang dengan keegoisannya tak bisa berbagi kepedihan. Maunya menang sendiri. Tak lazim untuk situasi seperti ini. Merapi masih bergemuruh dengan ganasnya. Tak ada yang tersisa. Tak ada yang perlu di banggakan atau dipamerkan disini. Tak pula orang-orang yang biasanya bergelimangan harta dan hidup dirumah mewah. Kini yang ada hanya lantai dan tikar untuk tidur bersama. Kembali aku tersenyum. Bencana kadang menyadarkan kita semua.
Seketika aku terperanjat. Seorang wanita paruh baya berteriak-teriak dengan pilunya.
“TIDAK...DIA LINTANG...ANAKKU!”
“TIDAK..!!! DIA ANAKKU BU...BUKAN ANAK SAMPEYAN.” Ibu lain menyahut.
“SAMPEYAN YANG MENGAKU-AKU. ENAK SAJA. INI LINTANG...ANAKKU!” wanita paruh baya yang bermuka kusut dan rambut acak-acakan menimpali.
Sesaat mereka saling mendorong memperebutkan bayi laki-laki nan mungil itu.
“ANAKE SAMPEYAN ITU SUDAH MATI!”
“HEH! JAGA MULUT SAMPEYAN BU...LANCANG!”
“WIS....WIS...BUBAR!” seorang laki-laki menengahi,”Sini dek, kasih bayi itu ke aku.” Dari situ aku tahu dia adalah suami dari ibu-ibu bermuka kusut itu.
“MBOTEN..MBOTEN MAS...AKU SAJA YANG GENDONG.” Ibu itu tetap bersikeras.
Tak segan-segan laki-laki itu merampas bayi yang ada didekapan sang istri dan memberikannya pada ibu satunya.
“MBOTENNN...MBOTENNN MASS....” ibu bermuka kusut itu kembali meraung-raung.
Sang suami langsung mendekap istrinya yang akan kembali merampas bayi itu. “Sadar dek, sadar...Lintang udah gak ada. Sing sabar yo...Tabah.”
Seketika si istri menghempaskan pelukan suaminya,”SAMPEYAN SAMA SAJA MAS. SAMPEYAN TEGA NGOMONG LINTANG MATI? BAPAK MACAM OPO SAMPEYAN?”
PLLAAAKKKK!!!! Sebuah tamparan keras melayang dari tangan laki-laki itu. Menyisakan sang istri yang terhuyung kedinding.
“SADAR DEK...SADAR!” seakan laki-laki itu memendam penyesalan atas apa yang baru saja dilakukannya.
Wanita itu tertunduk lemas. Punggungnya bergerak. Tangisnya pecah. Laki-laki itu kembali menghampirinya. Memeluknya. “Maaf dek, aku khilaf”.
“Lintang masih kecil mas. Baru sebulan. Mboten sak mestine dia meninggal. Napa bukan aku? KENAPA BUKAN AKU SAJA YANG MATI!!! Bunuh aku mas...bunuh...Aku pengin nyusul Lintang.”
“Istighfar dek...Istighfar...” jawab sang suami menenangkan
“Aku sudah nunggu Lintang 10 tahun mas, 10 tahun aku sudah dikira mandul, 10 TAHUN MASSS...10 TAHUN! Sampai-sampai Sampeyan diminta menceraikan aku. 10 tahun aku doa ke Gusti Allah supaya dikasih keturunan. Untuk membuktikan aku tidak mandul... MBOTEN GABUG!”, air matanya mengalir tak terbendung,”sampai aku ngandut, aku hamil 9 bulan mas. 9 bulan Lintang di dalam sini”, dia memegang perutnya.”Akhirnya Lintang lahir. Aku seneng banget mas...”
“Tapi Lintang sudah meninggal dek.”
Wanita sekonyong-konyong meremas payudaranya,”aku belum genap menyusuinya mas... aku masih mau menyusuinya sampai beberapa tahun kedepan. Aku masih pengin menggendongnya dan meninabobokannya. Aku pengin jadi ibu yang baik mas... Aku pengin ngrawat Lintang sampai dewasa. Aku pengin dengar dia memanggilku Ibu, aku ingin dia merepotkanku tengah malam. Membangunkanku untuk mengganti popoknya. AKU PENGEN MASSS!!!” isak tangisnya semakin kencang.”AKU GAK MANDUL MAS. AKU BISA PUNYA ANAK. TAPI AKU BUKAN IBU YANG BAIK.”
Setelah lebih tenang, dan ibu itu terlelap. Barulah aku mendekati laki-laki yang sepertinya seumuran dengan bapakku. Disitu aku mengetahui namanya Pak Parmin dan istrinya Bu Sureni. Kemudian Pak Parmin menceritakan tentang anaknya yang bernama Lintang. Jabang bayi yang baru berusia 1 bulan.
“Dek Bayu tahu sendiri bagaimana kejadian kemarin.” Aku mengangguk. Beliau melanjutkan,”Merapi mengamuk dengan ganasnya. Tim SAR dan semua relawan ambil andil dalam mengevakuasi kita. Saya dan Reni segera berlari masuk kedalam mobil box yang membawa kita seperti sapi. Reni tak sempat memakaikan baju Lintang. Jadi Lintang telanjang saat kami ajak berlarian. Begitu keluar rumah. Hawa panas segera menyeruak. Seketika insting seorang Ibu untuk melindungi anaknya muncul di benak Reni. Dibukalah sweaternya untuk diselimutkan ke tubuh Lintang. Didekaplah erat si jabang bayi. Setelah sampai di tempat ini, Reni menjerit-jerit, Lintang sudah tidak bernafas. Anak kami meninggal.”Mata bapak itu berkaca-kaca.”setelah diperiksa dokter, ternyata ada gangguan pernafasan. Entah karena di tutup sweater atau karena debu dan belerang yang hanya menyisakan sedikit oksigen. Sejak itulah Reni seperti ini.”
Belum lama berselang ada suara teriakan dari arah belakang gedung, “PAK PARMIN, CEPAT KESINI. BU RENI MAU GANTUNG DIRI!!!”
Kami spontan lari kebelakang dan mendapatkan Bu Reni yang hampir menghabisi dirinya sendiri. Pak Parmin menariknya dan segera mendekap erat istrinya. Airmatanya benar-benar deras kali ini.
“Istighfar dekkk...Istighfar. Astaghfirullah hal adzim!”
“Mas Parmin mboten bakal ninggalin aku? Mas Parmin gak bakal menceraikan aku kan?”
Dan akhirnya tak kuasa aku menahan tangis.